Rabu, 12 Maret 2014



WALAU TAK DISAMPINGMU, GUS

oleh : Nasrul fatah Sofar

tak tau harus berkata apalagi
tak bisa harus cerita apalagi
tak mungkin harus menggambarkan apalagi
tapi tetap harus tau, bisa, dan mungkin tentangmu apalagi

entah mulai kapan energiku mengikutimu
entah hidayah apa membedah ilmumu
mungkin hanya kita bertiga yang tau
Allah, panjenengan dan aku

ya, aku ikut andil membesarkanmu
ikhlasku menghabiskan waktu
pasti, panjenengan menguasai segala pemikiranku
sebab serasa bersama menyatu

Gus, panjenengan kira-kira sudi menerima abdiku??
panjenengan Gus, menguasai hati
Apakah Allah telah mengikatkan kita Gus??
Walau tak disampingmu, Gus


Kamis, 20 Februari 2014

TAFSIR SURAT AL FATIHAH ayat 1-3

"Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam"
"Yang Maha Pengasih Lagi Maha Pemurah"
"Yang menjadi Raja di hari agama"

"Alhamd" (Puji) baik secara aktual maupun verbal adalah bentuk dari manifestasi keparipurnaan dan suksesnya suatu tujuan, dari segala yang ada. Sebab [Hamdalah] itu merupakan bentuk dari pujian pembuka, sekaligus merupakan pujian indah bagi yang berhak mendapatkannya.

Segala yang [maujud] ini secara keseluruhan merupakan keistemewaan dan kekhasan, disamping semuanya berorientasi pada tujuan dari pujian itu sendiri. Seluruh keparipumaan muncul dari potensi-potensi menjadi aktual, dan semuanya senantiasa menyucikan dan memuji-Nya. Sebagaimana dalam firman Allah swt:

["Tak satu pun dari segala yang ada kecuali selalu bertasbih dan memuji-Nya".]

Bentuk tasbihnya adalah penyuciannya dari dualitas, dari sifat-sifat yang kurang dan lemah, dengan hanya menyandarkan kepada-Nya saja, memberikan petunjuk atas Ketunggalan dan Kekuasaan-Nya. Bentuk dari pujian jagad raya ini adalah penampakan keparipurnaannya pada struktur jagad secara tertib ini, kemudian memanifestasi pada sifat-sifat [Jalaliyah] (Keagungan dan kebesaran) dan sifat-sifat Jamaliyah (Keindahan).

Jagad raya senantiasa memiliki kesadaran darimana awal mulanya, bagaimana penjagaan atas kelestariannya dan pengaturannya, sebagai cermin konotatif dari arti hakiki [Rububiyah] bagi semesta alam. Yakni bagi segala sesuatu yang terkandung dalam Ilmu Allah. Seperti sebuah tanda bagi yang ditandai, Juga mengandung makna globalitas keselamatan yang penuh karena mengandung arti Ilmu dan sekaligus mengandung makna mengalahkan. Yang terkandung itu juga berarti kebajikan-kebajikan yang umum maupun khusus. Yaitu nikmat lahiriyah maupun nikmat batiniyah. Nikmat lahiriyah seperti kesehalan dan rizki, sedangkan nikmat batiniyah seperti pengetahuan dan ma'rifat.

Dari segi pengertian totalitasnya adalah makna dari sifat Diraja bagi segala sesuatu yang ada di hari akhir. Sebab tidak ada yang memberikan batasan kecuali Dzat Yang Disembah, dengan pahala nikmat abadi, jauh dari kefanaan di saat zuhudnya hamba, dan ketika [Af'al Allah Tajalli] saat [af'al] hamba sirna, penggantian sifat hamba oleh sifat Nya ketika hamba dalam kondisi keterhangusan, secara otomatis pengabadian melalui Dzat-Nya, dianugerahkan wujud hakiki ketika dalam kefanaan hamba.

Maka pujian dengan segala substansinya itu mutlak hanya bagi Allah Ta'ala, secara azali maupun abadi menurut proporsi hak hamba melalui Dzat-Nya.
Jika digambarkan permulaan dan akhir dari tujuan, serta unsur diantara awal dan akhir dalam ungkapan tahapan (terglobalisir), maka bisa diurai sebagai berikut: Bahwa Allah itu adalah Yang Memuji, dan Yang dipuji, baik dari segi terglobalisir maupun terinci. juga demikian, awal sekaligus akhir.

Ketika Allah ber-tajalli terhadap hamba-Nya dalam kalam-Nya, melalui Sifat-sifat-Nya, maka sang hamba menyaksikan-Nya dengan penuh keagungan dan kharisma-Nya, para hamba menyaksikan keparipurnaan kuasa-Nya dan kebesaranNya. Lalu para hamba itu berbicara kepada-Nya baik melalui ucapan maupun tindakan melalui bentuk ibadah terhadap-Nya. Lalu mereka meminta pertolongan kepada-Nya, sebab tak ada yang lain untuk disembah kecuali hanya Dia. Tak ada upaya dan daya kekuatan bagi seorang pun kecuali atas izin-Nya. Maka seandainya para hamba itu mampu hadir (di hadiratnya) niscaya gerak dan diamnya pun merupakan ibadah bagi-Nya dim bersamaNya. Mereka dalam shalat-shalatnya senantiasa langgeng, mendoa dengan lisan cinta atas penyaksian mereka pada Kemahaindah-Nya, dari sisi mana saja dan dimana pun mereka berhadap.

Sumber : http://sufinews.com/index.php/Al-Fatihah/al-fatihah-ayat-1-3.sufi
HARIRI DAN SEMIOTIKA SOSIAL USTADZ
Beberapa waktu lalu masyarakat dikejutkan dengan video ngamuknya seorang Ustadz ketika sedang berceramah. Hariri, ya, ustadz jebolan akademi dai TPI ini terlihat di video media sosial maupun media elektronik marah-marah bukan kepalang kepada petugas sound sistem.
Di dalam video yang berdurasi 3 menit 1 detik itu terlihat Hariri Nampak kesal dengan bahasa sundanya memarahi tukang sound sistem yang belakangan bernama Entis Sutisna ketika sedang berceramah di daerah Nagrak, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Konon sang ustadz kesal ketika meminta Entis untuk memperbaiki suara mikrofon yang tidak bagus sehingga mengganggu ceramahnya.
Namun, tak tahu alasannya apa, menurut kabar, Entis justru marah-marah kepada sang ustadz sehingga membuat Ustadz Hariri pun sebaliknya. Di dalam video tersebut, Entis terlihat ketakutan dimarahi sang ustadz dengan hanya menunduk dan mengangguk-angguk. Ternyata betul, menurut wawancara yang datang kepadanya, Entis takut dengan marahnya ustadz Hariri ketika itu.
Di tengah jamaah, terlihat dalam video Hariri yang berada di atas panggung memarahi Entis yang seakan tak berdaya berdiri pas di hadapan Hariri di bawah panggung sambil menceramahi seolah Raja Amphitriyon sang penguasa lalim kepada Alcides dalam legenda Yunani kuno, Hercules. Klimaksnya, ketika Entis meminta maaf sambil berjabat tangan dengan Hariri sekaligus menunduk seakan hendak mencium kakinya, lutut Hariri ditekuk dan menekan leher bagian belakang Entis sehingga memaksa salah seorang temen Hariri melerainya di atas panggung.
Setelah Entis beranjak dari ‘TKP’, gaya Hariri persis seperti ketika David Haye, petinju Inggris yang sombong memenangkan pertadingan, membusungkan dada, dan menegakkan badannya yang ketika mengenakan baju gamis terusan putih dan tutup kepala seperti Imam Bonjol.
Hujatan, makian, hinaan, terus-menerus muncul di video yang diunggah di Youtube tersebut. Intinya yaitu mengarah kepada Hariri yang seharusnya bisa lebih bersikap arif bijaksana sebagai seorang pendakwah.
Kejadian ini pun mengundang reaksi institusi maupun pemuka agama, tak terkecuali KH. Mustofa Bisri (Gus Mus). Di akun Facebook pribadinya Simbah Kakung yang ditandai oleh Ahmad Saifudin Zuhri, Gus Mus mengatakan bahwa, ustadz dalam bahasa aslinya, Arab, berarti guru atau profesor. ‘Kesaktian’ pers-lah yang membuat siapa saja di negeri ini disebut ustadz. Termasuk badut, preman, atau anak gila.
Ya, Ustadz. Panggilan untuk seorang profesor di Universitas al-Azhar Mesir ini lekat kepada seseorang yang berprofesi sebagai penceramah atau guru ngaji di Indonesia. Sebagai seorang penceramah atau dai, seseorang kerap menyimbolkan dirinya dengan Jubah, gamis, peci ala Imam Bonjol, dan tak ketinggalan Jenggot, selain itu banyak hapal ayat-yat al-Quran serta Hadis. Untuk menopang sombol-simbol tersebut, bahkan seseorang memenuhinya dengan perilaku sopan, murah senyum, gaya tenang, halus, lembut dalam perkataan, dan lain sebagainya dalam kehidupan sosial mereka.
Imbalan yang didapat dengan menyematkan dan menggerakkan simbol-simbol tersebut yaitu dihormati oleh orang lain sebagai seorang yang pandai dalam bidang agama. Ya, paradigma inilah yang tak jarang digunakan oleh seseorang agar cepat dapat dihormati bahkan ditakuti oleh orang lain dalam kehidupan sosial, yaitu dengan menampakkan simbol-simbol agama pada badannya, entah jenggot, gamis, jubah, peci ala Imam Bonjol, dan lain-lain.
Tentang Semiotika Sosial Ustadz
Tanda-tanda atau simbol-simbol ini dalam sebuah disiplin ilmu disebut semiotika atau ilmu tanda. Semiotik berasal dari bahasa Yunani semeion yang berarti tanda. Ahli filasafat dari Amerika yang juga berjasa dalam memunculkan semiotika modern, Charles Sanders Peirce, berpendapat bahwa kita hanya bisa berpikir dengan sarana tanda. Dengan demikian, sudah pasti bahwa menurut Peirce tanpa tanda kita tidak dapat berkomunikasi.
Pertanyaannya, apakah dengan tanda-tanda atau simbol-simbol yang melekat pada diri seseorang katakanlah simbol-simbol agama tadi membuktikan bahwa seseorang tersebut adalah ahli agama? Dengan kata lain, orang yang halus perkataannya, baik perilakunya, sabar dan tenang dalam bersikap dengan asumsi bahwa orang tersebut memang mengerti agama sebagai instrumen Tuhan dalam menunutun umatnya di jalan kebaikan.
Jawabannya belum tentu! Namun, tidak terpungkiri bahwa stigma yang disematkan oleh masyarakat yaitu karena tanda atau simbol-simbol yang tersemat kepada seseorang. Gayung bersambut, seseorang yang diberi gelar Ustadz pun menyimbolkan dirinya dengan memakai tanda-tanda yang memungkinkan bahwa dirinya memang benar-benar Ustadz. Artinya, dengan berpikir seperti itu, seorang Ustadz telah terjebak secara simbolistik tanpa berpikir esensi secara epistemologis apa makna Ustadz, bagaimana seharusnya mengendalikan perilaku yang mengarah pada keburukan, dan bagaimana pula penilaian masyarakat terhadap gelarnya itu dan tentu penilaian pada agamanya sebagai institusi jika semua itu terjadi.   
Hariri mementaskan sikap layakanya bukan seorang ustadz. Ironisnya, perilaku mengumbar kemarahan ia lakukan ketika sedang berceramah di hadapan ratusan jamaah. Ketika itu juga, dia menyimbolkan dirinya dengan memakai gamis terusan berwarna putih dengan peci khas ala Imam Bonjol yang secara semiotik cukup untuk merepresentasikan bahwa dirinya adalah ustadz dalam pandangan dan penilaian masyarakat. Nampaknya dia tidak cukup untuk berpikir bahwa dengan tidak sedang berceramah pun, atau ketika itu tidak sedang mengenakan simbol-simbol Ustadz pun, tetapi berbuat semena-mena, masyarakat dipastikan tidak bisa menerima perilaku tersebut. Bahkan cacian, makian atau hinaan tidak saja tertuju kepada diri pribadinya, namun juga pada institusinya yaitu ustadz, bahkan institusi yang lebih tinggi lagi yaitu Islam.
Sebetulnya Hariri bukan yang pertama, banyak orang di negeri ini yang di katakan ustadz, rupanya Islami namun perilakunya jauh dari esensi seorang ustadz dan nilai-nilai Islam. Tak perlu dirinci di sini, beberapa orang yang dipanggil dengan sebutan ustadz terbukti melakukan tindakan korupsi yang merugikan masyarakat dan negara miliaran rupiah. Ada ustadz yang terdakwa sebagai makelar kasus yang melibatkan banyak orang bahkan dari kalangan artis.
Memang konteksnya berbeda, namun terlepas dari kepentingan apapun, seseorang yang menyimbolkan diri dengan tanda-tanda akan terjebak dengan tanda tersebut secara semiotik dalam kehidupan sosial ketika dirinya tidak mampu berbuat sesuai yang diharapkan tanda tersebut. Biasanya orang yang menyimbolkan diri akan bangga dengan simbolnya sehingga merasa perlu dihormati bahkan dicium tangannya sebagai seorang ustadz. Efek dominonya bukan hanya pada dirinya, namun juga pada institusi yang disandangnya. Dengan kata lain, masyarakat juga akan skeptis dengan orang-orang yang serupa yaitu Ustadz.   
Berbeda dengan orang yang mengutamakan substansi. Orang seperti ini biasanya mempunyai paradigma berpikir iso rumangsa, sanes rumangsa iso (bisa merasa, bukan merasa bisa) sehingga tidak terlalu menyimbolkan diri, tidak terlalu perlu merasa dihormati bahkan perlu didengar nasihat-nasihatnya karena seperti Hariri atau ustad-ustad di atas, dapat membuatnya kehilangan akal sehat dengan tidak memahami ustadz secara substansi namun mengutamakan simbol secara semiotik, bukan?

Fathoni, Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana STAINU Jakarta

Jumat, 14 Februari 2014

NKRI INDAH TANPA INTOLERANSI
            Akhir-akhir ini saya merasa gerah dengan beberapa kasus intoleransi di negeri “yang katanya” majemuk. Ya, inilah Indonesia, beragam suku, ras, budaya dan agama hadir melengkapi keindahannya. Indonesia itu Berbeda, kalau tidak berbeda, berarti buan Indonesia. Barangkali inilah yang sering kita lupa untuk mensyukurinya. Semboyan Bhineka tunggal ika kini seakan hanya tinggal tulisan usang. Tidak lagi terpatri dalam sanubari bangsa Indonesia. Ada yang acuh tak acuh dengan semboyan tersebut bahkan ada juga yang sengaja mengikisnya demi sebuah kepentingan.
            Di facebook saya menulis “bukti bahwa Allah memuliakan manusia adalah bahwa Allah menawarkan beberapa agama yang harus dipilih satu dan untuk dianut oleh manusia. Allah tidak memaksa manusia untuk menganut agama tertentu”. Laa ikraaha fiddin (tidak ada paksaan dalam agama). Disinilah kebijaksanaan Allah sebagai Tuhan dari seluruh umat manusia, meskipun secara pribadi saya tetap menilai Islam adalah agama yang paling sempurna karena saya adalah umat muslim. Tentunya penilaian saya tersebut esensinya sama dengan umat agama yang lain yang menilai bahwa agama yang dianutnya itu adalah agama yang paling sempurna. Secara umum, saya menilai selama agama itu mengajar dan mengajak kepada kebaikan, ,maka agama itupun baik.
            Saya tidak ingin menilai dari segi akidah, karena sudah terlalu banyak yang berdebat masalah akidah yang sampai sekarang masih membuat saya males mengikutinya. KH. Hasyim Asyari berkata, “akidah itu tidak bisa diganggu gugat”. Menurut saya, masalah akidah sudah selesai sejak nabi Muhammad SAW mengenalkan islam kepada umat manusia. Begitu juga dengan Ideologi Bangsa kita sudah selesai sejak berdirinya bangsa Indonesia. Titik!
            Saya hanya ingin perdamaian di negeri tercinta ini. Tentunya dengan demokrasi dan toleransi. Hanya itu jalannya. Saya ingin negeri ini aman dari kasus-kasus intoleransi. Aman dari orang-orang yang kerjanya mencuci otak masyarakat untuk menolak pancasila sebagai ideologi bangsa. Gitu saja kok ribet!!


Arulisme 16-12-2013